17 Kesalahan Umum Dalam Membeli Barang

Berbenah rumah, adalah hal besar untuk orang-orang yang menginginkan perubahan dalam hidupnya.

Untuk menghasilkan nilai yang lebih dalam menganalisa hidup kita, ada baiknya kita mencatat apa-apa saja kebiasaan kita yang perlu diperbaiki ketika melakukan aktifitas bebenah dalam rumah. Hal ini akan membuat kita menjadi pribadi dan pasangan yang matang dalam mengambil keputusan di kemudian hari.

Banyak orang melakukan kesalahan tanpa sadar dalam membeli, bukan karena tidak berpikir terlebih dahulu, tapi tidak jarang orang melakukan kesalahan tersebut karena terlalu banyak berpikir. Penasaran apakah Anda pernah melalukan hal tersebut? 

Berikut adalah 17 kesalahan umum dalam membeli barang yang tim kami kumpulkan dari para shoppers.

 

1  “Membeli” Dengan Cara Memesan Barang Di Tukang Yang Tidak Professional.

Mari kita ambil contoh Sofa. Sofa akan menjadi tempat istirahat pertama sebelum tempat tidur dan tempat bermain untuk seluruh anggota keluarga. Sofa juga termasuk furniture yang jarang sekali digonta ganti (umumnya hanya kulitnya saja). Investasi yang baik untuk furniture salah satunya ada di sofa yang nyaman, yang tidak membuat sakit pinggang setelah duduk berjam-jam. Kenyamanan, keamanan, dan kesehatan adalah hasil penelitian dan quality control yang kuat dalam waktu lama. Pastilah sulit kita bisa menguasai itu dalam satu kali membuat sendiri atau memesan ke tukang. Tidak harus “mewah”, tapi sebaiknya bersabar untuk membeli sofa di produsen yang sudah berpengalaman.  Kecuali tukang tersebut professional dan memiliki testimoni baik yang bisa dipertanggung jawabkan.

2  Membeli Barang Tanpa Mencobanya (Hanya Lihat Katalog Saja).

Ketika membeli barang secara online, tidak jarang, ketika sampai di rumah barang tersebut mengecewakan dan tidak sesuai dengan gambar. Ini bisa menuju kepada pemborosan dan penumpukan barang yang tidak sparks joy. Di samping karena baru, jadi merasa sayang “membuang”nya, tapi dipakai juga tidak joy, serba salah yang berujung kepada dilemma berkepanjangan.

Membeli secara online membutuhkan skill dan pengalaman. Skill untuk “menyaring” reliable seller dan produk berkualitas. Tidak sedikit orang yang harus melewati pengalaman-pengalaman gagal sebelum merasa dirinya nyaman dan percaya diri menjadi pelanggan online. Pastikan Anda siap melalui proses ini sebelum berbelanja online.

3  Membeli Semua Barang Sekaligus Dalam Satu Hari.

Karena keterbatasan waktu, banyak orang yang meluangkan waktu 1 (satu) hari saja untuk membeli semua barang. Dari mulai baju hingga furniture, atau pernak-pernik. Akibatnya, ketika merasa mulai lelah, ditambah dibatasi oleh waktu yang dibuat-buat sendiri, keputusan mulai dibuat dengan terburu-buru. Kelelahan dapat membuat kita bertoleransi dan perlahan menyimpang dari kesepakatan tema yang diinginkan dan bahkan budget di awal. Sebagus apapun visi dan value dibuat di awal, membeli barang dalam 1 (satu) hari tidaklah menguntungkan.

4  Tidak Memperhatikan Secara Cermat, Terutama Untuk Barang Antik (Vintage).

Jika Anda kolektor barang vintage, perhatikan barang tersebut secara baik-baik. Walaupun barang vintage dinilai wajar jika “cacat sedikit”, tapi barang tersebut harus masih bisa memenuhi fungsinya. Jika fungsinya untuk hiasan, pastikan bagian yang terlihat sebagian besar baik. Atau jika Anda memutuskan untuk merekondisi barang tersebut, pastikan berapa banyak hal yang perlu Anda perbaiki. Ini berdampak pada budget yang Anda alokasikan di awal (psst, ini juga berlaku untuk “lungsuran barang antik” dari kakek nenek ya..)

5  Membeli Barang Tidak Sesuai Konsep Rumah.

“Jika Anda suka dengan tema industrial, apakah Anda akan membeli lampu kristal?” Untuk yang mengerti ini, tentu akan mengatakan “Tidak”.

Mengerti tentang tema-tema rumah itu banyak manfaatnya. Dengan mengenal satu persatu model desain interior, Anda bisa paham model mana yang disukai dan menjadi panduan mencari model furniture & pernak-pernik yang tepat. Walaupun pada akhirnya improvisasi (komibinasi tema) dan kreatifitas akan bermain, menyesuaikan dengan waktu dan budget, tapi fokus ke 1 (satu) tema akan membuat pikiran Anda tidak terlalu kemana-mana dan menghemat waktu koreksi yang tidak perlu (lihat artikel jenis-jenis rumah).

6  Membeli Barang Sesuai Trend dan Tidak Berdiskusi Terlebih Dahulu.

Berkaitan dengan poin di atas, baiknya Anda menentukan value hidup Anda ketika men-design rumah. Alih-alih melihat trend yang sedang ada sekarang. Anda sedang “men-design hidup“ Anda. Anda akan men-design siapa akan melakukan apa saja di ruang itu. Maka setelah Anda tahu apa yang Anda mau, mulai tanya penghuni rumah apa yang mereka sukai. Apakah mereka butuh ruangan pribadi, dan dimana. Komunikasikan dan negosiasikan, terutama untuk lahan terbatas. Membeli barang tanpa diskusi akan menyusahkan diri sendiri. Ketika kita “mentok” dalam men-design, sulit untuk meminta bantuan orang lain karena mereka tidak mengerti apa yang kita mau.

Mendesign rumah = Men-design hidup

7  Tergoda Diskon.

Seperti yang disebutkan oleh Marie Kondo dalam bukunya: Life Changing Magic of Tidying Up, membeli barang saat diskon tidak diperbolehkan. Kecuali, Anda mempunyai visi yang jelas mengenai barang yang Anda butuhkan. Jika Anda datang ke acara diskon tidak mempunya visi yang jelas, alih-alih membeli barang yang Anda cari, malah Anda akan berakhir dengan barang berlebih yang tidak Anda perlukan. Lagipula, jika barang yang anda beli benar-benar sparks joy, Anda pasti juga menginginkannya tidak hanya pada saat diskon saja, kan?

Tanyakan diri Anda ketika Anda ragu. Jika barang diskon yang anda beli benar-benar sparks joy, mengapa Anda menginginkannya pada saat diskon saja?

8  Membeli Barang Fungsi Mirip atau Sama.

Ada baiknya selalu ingat apa saja isi dalam rumah dan fungsinya. Misalnya, Anda tergoda dan membeli toaster diskon, tapi sebenarnya Anda punya oven. Akibatnya, bisa salah satu saja yang digunakan, dan berujung kepada barang yang tidak dipakai. Barang yang terlalu lama tidak dipakai juga bisa menlunturkan unsur Joy di dalamnya. Sebaiknya berlaku adil terhadap barang-barang yang ingin Anda beli. Jika sekiranya ada pemilik lain yang akan lebih sayang kepadanya, tolong jangan “adopsi” dia ke rumah 😊

Jika kira-kira pemilik lain akan lebih sayang kepadanya daripada kita, jangan “adopsi” dia ke rumah.

9  Membeli Barang Canggih atau All-In-One Tanpa Sebab Yang Jelas.

Anda ingin membeli rice cooker yang bisa memasak nasi, mengukus, sampai membuat kue dengan harga yang lebih mahal daripada rice cooker biasa. Padahal Anda jarang membuat kue. Atau Anda sebenarnya tidak memiliki “value” untuk menjadi ahli membuat kue. Atau anda ingin membuat kue dengan anak Anda, yang sekarang umurnya masih 6 bulan. Sekali lagi, berlaku adil terhadap barang-barang yang ingin Anda beli. Barang harus dibeli saat Anda benar-benar membutuhkannya.

10  Membeli Barang Yang Penggunaannya Sulit. Walaupun “Kekinian” dan Terlihat Bagus Untuk Dipakai.

Dalam hal rumah tangga, ini bisa saja vacuum cleaner yg canggih tapi sulit dipakai. Seiring dengan perkembangan trend, perkembangan alat rumah tangga semakin canggih namun belum tentu Anda membutuhkannya. Mari lirik sebentar analogi lain dari sisi wanita. Saat ini, ada baju-baju merek tertentu yang tapi tidak ada polanya. Harus dilipat kesana kesini sehingga membentuk siluet yang berbeda-beda tergantung model badan orang tersebut. Hal ini untuk beberapa orang merepotkan. Terutama bagi Anda yang tidak gemar bangun pagi hanya untuk berlama-lama memakai baju. Akhirnya baju itu bisa-bisa jarang sekali terpakai. Lagi-lagi akan masuk kategori “sparks no joy”.

11  Membeli Barang Bersifat “Sementara”.

Saya pernah membeli lemari kecil bermerek terkenal dari swedia dengan harga murah. Sifatnya sementara karena waktu itu dana kami sedang terbatas. Akibatnya karena sebenarnya itu tidak sparks joy, kami malas-malasan melihatnya dan merapikannya. Tetapi lemari kecil tersebut masih sangat bagus dan kami menghabiskan waktu dan dana yang lumayan untuk “mendandaninya”. Ini sangat membuang-buang waktu. Usahakan selalu tahu jadwal Anda paling tidak 2-4 minggu ke depan sebelum merencanakan “mendandani sesuatu”.

Mendandani suatu barang bisa jadi sangat merepotkan. Keputusan membeli barang haruslah dibarengi mindset untuk Jangka Panjang. Paling tidak sampai Anda mampu meluangkan budget untuk menggantinya lagi jika barang tersebut cepat rusak.

12  Tidak Merencanakan Anggaran Untuk Setiap Barang Yang Akan Dibeli.

Jika Anda memiliki anggaran yang bersifat general atau biasa kita sebut gelondongan. Mari kita ubah anggaran tersebut menjadi lebih detail lagi. Anggaran yang baik dibuat per kebutuhan. Urutkan barang-barang yang akan Anda beli sesuai kebutuhan, lalu atur budget untuk setiap barang tersebut. Tidak adanya anggaran untuk tiap barang yang akan Anda beli akan berujung kepada penundaan pembelian barang-barang lain yang lebih penting untuk dibeli. Akibatnya bebenah rumah bisa jadi tidak kelar-kelar.

13  Tidak Menyesuaikan Skala Ruangan.

Dalam tingkatan lebih lanjut dari membeli, upayakan untuk memiliki gambar design dan ukuran ruangan-ruangan dalam rumah Anda. 2 (dua) dimensi, atau 3 (tiga) dimensi lebih baik lagi. Atau, Anda minimal menghapal dan menulis ukuran-ukuran ruangan di rumah Anda sebelum berangkat. Bukan hanya lantai tapi tinggi hingga ceiling. Barang yang dibeli juga haruslah sesuai dengan skala ruangan. Misalnya, coffee table yang dibeli panjangnya kira-kira tidak kurang dari 1/2 dari panjang sofa yang ada sekarang. Barang kebesaran atau kekecilan, dan perbandingan yang tidak imbang, akan membuat ruangan menjadi aneh.

14  Kurang Memperhatikan Material Barang.

Bagi yang sudah memiliki dedicated budget untuk membeli barang, mari semboyan-kan “Membeli Untuk Jangka Panjang”. Selain memilih tema yang everlasting (Anda sudah harus cukup matang untuk menentukan tema rumah, pastikan sesuai value diri jd tidak berubah2. Everlasting bukan berarti menurut trend di majalah ya). Material baik akan berbanding lurus dengan harga. Temukan zona aman Anda dalam menentukan budget lalu beli barang yang paling lama bertahan disesuaikan dengan kenyamanan Anda. Saya tidak menganjurkan menyicil. Tetapi apabila barang tersebut amat sangat dibutuhkan, langka, stabilitas keuangan Anda selama fase cicilan stabil, dan pasangan juga setuju, maka silahkan menyicil. Saya pernah menentukan batasan saya menyicil barang non investasi hanya 3 bulan. Umumnya, orang lebih sulit melihat seperti apa kondisi finansialnya jika lebih dari 3 bulan. Tapi ini pilihan pribadi masing-masing. Intinya, jangan sampai memberatkan.

15  Membeli Barang Yang Tidak Ada “Rumah”nya Di Rumah Anda.

Jika Anda tidak memiliki “rumah” atau tempat khusus untuk barang yang akan dibeli, barang akan berceceran kemana-mana. Untuk yang punya gudang, barang tersebut akan “menunggu” di Gudang. Jika rumah Anda kecil dan Anda ingin membeli lemari sepatu. Recycle/ jual/ sumbangkan lemari sepatu lama sebelum Anda membelinya. Menunda-nunda adalah teman baik dari cluttering. Ini juga termasuk jika Anda memutuskan untuk membeli 5 (lima) lagi tissue roll, padahal 5 (lima) yang kemarin belum terpakai semua. Pastikan kembali barang mana yang perlu Anda simpan sebagai persediaan, dan apakah Anda memiliki tempat yang cukup untuk menampungnya. Apabila barang tersebut tidak langka, dan toko/ supermarket sangat dekat dengan rumah Anda, tidak perlu menyimpan persediaan terlalu banyak.

Pada dasarnya manusia memiliki survival ability untuk bertahan dalam ketiadaan. Setelah membaca buku Life Changing Magic of Tidying Up, banyak client KonMari yang telah melewati fase bebenah dan membuang banyak barang dan beberapa hari kemudian menyadari bahwa mereka membutuhkan barang yang telah dibuang. Mereka berhasil bertahan dalam ketiadaan dan menemukan penggantinya.

16  Membeli Barang Untuk Dijual Atau Disewakan.

Kecuali ini adalah value & tujuan hidup Anda untuk menjadi seorang reseller, dan Anda punya gudang yang cukup besar.

17  Membeli Barang Hanya Karena Fungsinya.

Walaupun poin 1 sampai 16 mengaktifkan otak kiri Anda dan membuat Anda hanya memikirkan fungsionalitas suatu barang. Janganlah lupa bahwa barang tersebut juga harus indah dipandang. Aktifkan lagi otak kanan Anda karena menghias, menata-letak suatu barang sangat perlu. Dengan jumlah yang cukup, peletakkan barang koleksi yang simple atau statement items yang menggambarkan diri Anda akan “memberi nyawa” kepada barang tersebut. Rumah anda akan terlihat lebih “hidup” dan bukan seperti katalog toko furniture.

Sumber:
https://www.rumah.com/berita-properti/2016/4/122929/cara-mudah-identifikasi-gaya-ruangan-anda
https://www.dekoruma.com/artikel/61745/kesalahan-memilih-alat-rumah-tangga
Life Changing Magic Of Tidying Up – Marie Kondo, 2011

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *